Shelbyra Fitri "다비치"

"God grant me the serenity to accept the things I cannot change; courage to change the things I can; and wisdom to know the difference"

Sharing tulisan temanku sholihah...
Semoga manfaat 
"Berbincang Tentang Sakinah, Mawaddah, Warahmah"
-Muktia Farid-

Seorang suami, berapapun usianya, lebih muda atau lebih tua dari istrinya, sering mendambakan peran istri sebagai 'ibu'. Tempat ternyaman untuk mengadu, tempat bermanja-manja, tempat meminta ini-itu, setelah seharian di luar dia harus tampil sebagai 'lelaki perkasa'.
Bukan sebaliknya, istri yang terus bermanja-manja, meski itu juga ada saatnya, namun kebutuhan itu tak sebanyak kebutuhan suami akan sosok 'pelindung dan penenang hati'. Suami, sering lebih ingin diperlakukan sebagai 'bocah' oleh istrinya, setelah sebagian besar waktunya dia haru berperan sebagai lelaki dewasa yang harus (tampak) tegar sebgai tulang punggung keluarga. Namun, di dalam rumahnya, dia ingin tetap menjadi 'bayi besar', yang aman dan nyaman dalam pelukan 'seperti ibu'nya .

Maka, seorang istri yang bijak, perlu paham akan kebutuhan ini jika ingin terus dicintai.
Seperti bunda Khadijah, yang sigap dan lembut memberikan kenyamanan dan ketenangan saat Rasulullah datang dengan wajah ketakutan dan berkata, "Zammilaani... Zammilaani".

Salah satu peran istri sebagai 'laksana ibu' bagi suami yang seharian sibuk beraktivitas di luar adalah: menjadi 'telinga' yang nyaman. Pulang untuk didengarkan, ditenangkan, dibesarkan hatinya. Apalagi jika di luar sana ada masalah-masalah 'khas laki-laki' yang menguras effort tenaga dan pikirannya. Dia butuh telinga, butuh rilis di tempat yang menurutnya paling nyaman.

Jadi bukan pulang untuk mendengarkan cerocosan istri yang panjang kayak kereta api. Bukan juga untuk disambut rajukan manja yang minta ini dan itu, atau minta diantar kesana dan kesini, mumpung suami pulang. Itu nanti saja. Tahaan, akan ada saatnya. Lelaki yang pulang ke rumah membutuhkan dua telinga yang terbuka, bukan mulut yang berbusa.

Sakinah, adalah kenyamanan, yang datang tak tiba-tiba, tapi harus diciptakan. Bukan semata berbekal cinta. Itu tak cukup, tak memadai. Tapi harus ada usaha, ke dalam maupun ke luar.

Ke dalam, setelah menikah, (seharusnya) makin cantik akhlaknya, pun makin kuat ibadahnya. Sholat tak ketinggalan jamaahnya, tilawah tak berkurang halamannya, makin tertata ucap lakunya, makin matang sikapnya seiring usia.

Ke luar, (seharusnya) makin nyaman jadi tempat bercerita dan bercengkrama pasangan jiwa, kompak dengan keluarga orang tua-mertua, sinergi dengan tetangga, makin semangat memberikan manfaat untuk ummat.

Tentu, kesemuanya itu berlaku bagi keduanya, bukan hanya salah satu pihak saja. Jika sudah begini, maka akan makin cinta .
Sakinah ada bukan karena diberi dari langit, tapi diupayakan. Mari... .

Mawaddah, adalah cinta disertai dengan nafsu biologis. Urutannya sakinah dulu, baru mawaddah. Jadi, biar muka kinclong badan ramping tapi perilaku nyebelin, ya ga jadi sakinah, juga mawaddah. Yang ada paling sekedar nafsu.

Interest of sex memang perlu, karena tujuan pernikahan antara lain memperbanyak keturunan. Maka kata ustadzah, jadi istri jangan pagi-pagi keluar kinclong semerbak mewangi seperti ratu, tapi pulang-pulang capek kucel malas mandi seperti hantu ��.

Oleh karena mawaddah terkait tampilan raga agar tetap menarik secara sex bagi pasangannya, maka memang kemudian, menjaga kebugaran, kecantikan, kesehatan menjadi sangat urgent. Juga tentunya berusaha memunculkan inner beauty, tak cuma tampilan luar. Itu demi menjaga mawaddah itu sendiri. Dan, sifatnya resiprokal, kedua pihak. Bukan karena untuk gaya-gayaan, atau justru untuk orang lain.

Namun, usia yang makin beranjak tua memang tak bisa menipu. Akan ada masanya fisik tak lagi ayu, tapi mulai melayu. Kulit yang dulu tampak lembut kini mulai keriput. Secara 'kesing' jelas raga sudah tak menarik lagi. Apalagi kemampuan secara fungsional, jauh menurun. Dulu bisa berlari, sekarang jalan pun terhuyung. Apakah karena demikian, lalu tercampakkan?
Fa aina rahmah?.. Di manakah rahmah?

Maka, saat fisik sudah tak lagi menarik, atas dasar rahmah, pasangan yang sudah setia mendampingi tak akan tersia-siakan. Namun terus saling memuliakan, mengasihi,ajal memisahkan. Surat At-Taghabun telah mengajarkan hal yang fenomenal. Bahwa mawaddah, tanpa diiringi rahmah, bisa menjadi bencana dalam rumah tangga.

Demikian sekilas tentang Sakinah, mawaddah, wa rahmah,wallohu 'alam

0 komentar:

Post a Comment